Rabu, 29 April 2009

Kamis, 23 April 2009

Singkirkan Syetan-syetanmu

“Oleh : Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany”

Rasulullah Saw. Bersabda:

“Singkirkan syetan-syetanmu dengan ucapan Laailaaha Illalloh Muhammadur-Rasululloh, karena syetan itu diikat dengan kalimat itu sebagaimana kalian memembebani derita untanya dengan banyaknya tumpangan dan beban-beban yang dipikulnya.”

Singkirkan syetan-syetanmu dengan ikhlas dalam ucapan Laailaaha Illall0h, bukan sekadar ucapan verbal. Karena tauhid itu membakar syetan Jin dan syetan manusia, karena tauhid adalah neraka bagi syetan dan cahaya bagi orang yang manunggal (tauhid) pada Aloh.

Bagaimana anda mengucapkan Laailaaha Illalloh sedangkan dalam hati anda banyak Tuhan?

Segala sesuatu yang anda jadikan pegangan dan anda andalkan selain Alloh, maka sesuatu itu adalah berhala anda. Tauhid verbal (ucapan) tidak ada artinya jika qalbu anda musyrik. Tidak ada artinya menyucikan fisik sedangkan hati tetap najis.

Orang bertauhid itu menepiskan syetannya, sedangkan orang musyrik malah diperdaya oleh syetannya. Ikhlas adalah isi dari ucapan dan perbuatan, karena tanpa keikhlasan ucapan hanyalah kulit belaka, tanpa isi, yang tidak layak melainkan neraka belaka. Dengarkan ucapanku dan amalkan, karena mengamalkannya bisa mematikan neraka tamakmu dan menghancurkan duri nafsumu. Janganlah anda datangi suatu tempat yang bisa mengobarkan api watakmu yang bisa merobohkan rumah agama dan imanmu, dimana watak nafsu dan syetan berkobar lalu menghapus agama, iman dan yaqinmu. Karena itu jangan anda dengarkan ucapan mereka yang munafik yang penuh dengan kepura-puraan penuh dengan retorika keindahan. Nafsu itu senang dengan gaya seperti itu, seperti adonan roti yang masih mentah tanpa garam yang malah bisa merusak perut dan membuat hancur se-isi rumah.

Pengetahuan itu diambil dari ucapan para tokoh. Diantara para tokoh itu ada tokohnya Allah Azza wa-Jalla. Mereka adalah kaum Muttaqin, yang hatinya meninggalkan dunia, yang menjadi pewaris, dan yang ahli ma’rifat, mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Dan segalanya tanpa ketaqwaan hanyalah sia-sia dan batil.

Kewalian itu hanya bagi orang yang taqwa di dunia dan di akhirat. Seluruh fondasi dan bangunan, dunia dan akhirat dari jiwa mereka. Sesungguhnya Alloh mencintai hamba-hambaNya yang taqwa dan berbuat kebajikan, yang sabar. Manakala anda punya intuisi yang benar, pasti anda akan mengenal mereka, mencintai mereka dan mensahabati mereka.

Intuisi itu benar manakala dicahayai oleh kema’rifatan kepada Alloh dalam hati. Karena itu jangan berpijak pada intuisi-mu jika belum ditimbang dengan ma’rifatulloh Azza wa-Jalla, hingga jelas benar informasi mengenai kebenaran dan kebajikan.

Tutuplah matamu dari perkara yang haram, dan kendalikan dirimu dari syahwat, lalu kembalikan dirimu pada makanan yang halal, serta jagalah batinmu dengan muroqobah kepada Alloh Azza-Wajalla, lahiriyahmu mengikuti jejak Sunnah Nabi saw. Maka intuisimu akan benar dan layak, benar pula ma’rifatmu kepada Alloh Azza wa-Jalla Akal

dan hatimu anda didik. Sedangkan watak dan nafsu serta kebiasaan sehari-hari yang buruk, tidak bisa dididik dan tidak ada kemuliaannya.

Anak-anak sekalian…Belajarlah dan ikhlaslah, hingga anda bersih dari duri kemunafikan, lalu ikatlah. Carilah ilmu karena Alloh Azza wa-Jalla, bukan demi kepentingan makhluk dan dunia.
Tanda anda mencari ilmu karena Alloh Azza-wa-Jalla, adalah rasa takut dan gentarmu dari Alloh ketika perintah dan laranganNya tiba, dan anda sangat fokus di sana, merasa hina di hadapanNya, tawadlu terhadap sesama namun tanpa kepentingan pada mereka, sama sekali tidak berharap dari apa yang menjadi milik mereka.

Anda malah harus bersedekah karena Alloh Azza wa-Jalla dan konsisten. Karena shadaqah yang diberikan bukan karena Alloh Azza-wa-Jalla adalah musuh, dan berpijak pada tindakan seperti itu akan musnah. Pemberian yang motivasinya bukan karena Alloh adalah kegagalan.

Nabi Saw, bersabda:

“Iman ini ada dua bagian; sebagian sabar dan sebagian lagi syukur.”
(Hr. As-Suyuthy dari Anas ra)

Bila anda tidak sabar atas derita, tidak syukur atas nikmat, maka anda belum beriman. Karena hakikat Islam adalah Istyislam (pasrah diri total pada Allah).

Ya Allah hidupkan hati kami dengan tawakkal kepadaMu, dengan taat dan dzikir hanya bagiMu, dengan berserasi padaMu, dengan Tauhid hanya bagiMu.

Kalau bukan karena tokoh-tokoh Allah di muka bumi yang ada di hatimu, pastilah sudah hancur kalian semua. Sebab Allah azza wa-Jalla mengalihkan adzabNya, karena doa mereka itu. Rupa Nabi memang sudah tiada, namun maknanya senantiasa abadi sampai kiamat. Bila tidak, bagaimana mungkin senantiasa ada 40 tokoh Ilahi yang senantiasa muncul di muka bumi? Dimana hati mereka ada makna-makna nubuwwah, hatinya seperti satu hati dari para Nabi. Diantara mereka ada Khalifah Allah dan rasul-rasulNya di muka bumi, yaitu para Ulama yang menggantikan sebagai pewaris Nabi.

Nabi Saw; bersabda:
“Para Ulama adalah pewaris para Nabi.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Ibnu Hajar).

Merekalah pewaris, penjaga, baik tindakan maupun ucapan. Karena ucapan tanpa tindakan sama sekali tidak menyamainya, dan itu hanya pengakuan-pengakuan belaka tanpa bukti, sama sekali tidak sama

(tidak berhak menyandang pewaris).

Anak-anak sekalian, aku jelaskan agar kalian memegang teguh Kitab dan Sunnah serta mengamalkan keduanya, ikhlas dalam beramal.

Aku melihat Uama-ulama kalian bodoh-bodoh. Yang anda anggap zuhud malah memburu dunia, berserah diri pada makhluk, namun alpa pada Al-Khaliq Azza wa-Jalla. Percaya pada selain Alloh Azza wa-Jalla adalah penyebab laknat. Nabi saw, bersabda:

“Dilaknati! Dilaknati! Makhluk yang kepercayaannya pada makhluk sesamanya”.

Sabdanya pula:

“Siapa yang menggantungkan rasa butuhnya pada makhluk maka dia menjadi hina.”

Sungguh! Bila anda keluar dari makhluk maka anda akan bersama Sang Khaliq Azza wa-Jalla, Dia Yang Maha Tahu apa yang membahagiakanmu dan mencelakakanmu. Bedakan apa yang membahagiakan bagimu dan apa yang bagi orang lain.
Hendaknya anda tetap teguh dengan langgeng di pintuNya Azza wa-Jalla, dan memutuskan dunia dari hatimu, maka anda bakal menemukan kebajikan dunia dan akhirat. Dan hal demikian tidak bisa sempurna, ketika makhluk dan riya’ ada di hatimu, yang lain dan segala selain Alloh Azza wa-Jalla tetap di hatimu, maka tak bisa dinilai sedikit pun hati anda.

Jika anda tidak sabar anda tidak bisa beragama, tidak ada modal bagi iman anda.
Nabi saw, bersabda:

“Sabar itu bagian dari iman, seperti kepala bagi fisik tubuh”

(H.r. Al-Hindy dan al-Iraqy).

Makna sabar, berarti anda tidak pernah mengeluh, tidak bergantung pada sebab akibat dunia, dan tidak membenci cobaan, juga tidak senang hilangnya cobaan. Seorang hamba ketika tawadlu karena Alloh Azza wa-Jalla saat fakir dan sangat butuh, dan ia sabar bersamaNya untuk mengikuti kehendakNya, tidak tidak congkak dengan sifat-sifatnya, lalu meraih pencerahan dalam ibadah di tengah kegelapan, berusaha dengan pandangan mata kasih sayang, maka Alloh akan mencukupinya dan keluarganya dengan kecukupan tiada terduka.
Allah swt berfirman:

“Siapa yang bertaqwa kepada Alloh maka bakal diberi jalan keluar, dan diberi rizki yang tak terhingga.” (Ath-Thalaq 2).

Anda ini seperti tukang bekam yang mengeluarkan penyakit orang lain, sedangkan dirimu penuh penyakit yang tak bisa anda keluarkan. Saya melihat anda semua sepertinya bertambah ilmunya secara lahiriyah, namun secara batin malah tampak tolol.

Dalam kitab Taurat disebutkan: “Siapa yang bertambah ilmunya, maka bertambahlah sedihnya.”

sumber : http://sufinews.com/

Cinta Kepada Allah dan Cinta Kepada Rasulullah SAW


Di sini tak ada penyesalan
Yang ada hanyalah cinta Kepada Allah dan Kepada Rasulullah SAW
Disamping mengetahui haknya Sebagai hamba
Dan haknya Terhadap sesama

Kalimat hikmat tersebut tertulis dalam sebuah sudut tembok tua di Pesantren Pesulukan Thariqat Agung Tulung Agung. Para santri, para tamu dan mereka yang sedang melakukan suluk Thoriqoh senantiasa membaca kalimat ini. Kalimat yang sepintas aneh namun memiliki sentakan hati yang menusuk kegelapan dunia, sekaligus membangunkan kelelapan hamba.

Kalimat sederhana, tetapi merupakan simpul dari seluruh perjalanan Mi’raj Kaum Sufi di seluruh dunia, pengetahuan sekaligus hikmah terdalam, dan akhir sebuah perjalanan. Mencintai Allah dan mencintai Rasul SAW-Nya, mengetahui haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama hamba. Menemui Allah itu tidak akan pernah tergapai manakala sang hamba tidak pernah mencintai Rasul SAW-Nya. Mencintai Rasul SAW kelak secara otomatis mengikuti jejak-jejak sang Rasul SAW. Ketika seorang hamba menempuh perjalanan amal dan menggapai derajat luhur: bahwa semua itu merupakan penjejakan dalam Islam, suatu orientasi semata menuju kepada Allah SWT.

Dalam suatu ayat Al-Qur’an dijelaskan: “Katakanlah, apabila orangtuamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu dan keluargamu, dan harta-harta yang kamu berusaha meraih keuntungannya, serta perdagangan yang kamu takutkan akan kebangkrutannya dan tempat-tempat tinggal yang kamu senangi, ternyata lebih kamu cintai dibandingkan mencintai Allah dan Rasul SAW-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah, sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(at-Taubah : 25)

Cinta atau mahabbah ternyata menempati posisi luhur dalam kehidupan beragama. Banyak orang menyangka, apa yang dilakukan selama ini sudah menempati posisi cinta itu, padahal ia sekedar menjalankan suatu perintah belaka, tanpa penghayatan rasa cinta sampai ke dalam batin, rasa cinta yang menyentuh ruh dan lubuk kalbunya. Betapa dahsyatnya cinta kepada Allah dan Rasul SAW-Nya ini, sampai Allah memperingatkan dengan berbagai versi dalam ayat Al Qur’an maupun Hadits Rasul SAW dalam riwayat Al Bukhari dan Abdullah bin Hisyam dijelaskan.

“Kami bersama Rasulullah SAW. Ketika itu Rasulullah SAW sedang memegang tangan Umar bin Al Khatab, lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah SAW engkau adalah orang yang paling kucintai dibanding segalanya selain diriku.” Lalu Rasulullah SAW balik menjawab, “Tak seorang pun beriman secara sempurna sampai aku lebih dicintai dibanding dirinya sendiri.” Umar kembali menegaskan, “Engkau sekarang, lebih kucintai dibanding diriku sendiri.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sekarang begitu wahai Umar.”

Dalam hadits lain yang dikeluarkan oleh Imam Muslim disebutkan,

” Nabi SAW bersabda, “Apabila Allah Azza wa Jalla mencintai seorang hamba, Dia berfirman kepada Jibril. “Wahai Jibril Aku mencintai seseorang, maka cintailah dia.” Lantas Jibril mengumumkan kepada seluruh penghuni langit, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar mencintai seorang hamba maka hendaknya kalian mencintainya. ” Lalu penghuni langitpun mencintai hamba itu, dan hamba itu pun diterima oleh manusia di muka bumi….dst.

Dalam konsep Sufi, mahabbah atau cinta menempati posisi ruhani yang luhur dan mulia. Menurut Abul Qasim al-Qusyairy dalam kitabnya Ar Risalah al-Qusyairiyah, Allah menyaksikan sang hamba melalui cinta itu dan Allah mempermaklumkan cinta-Nya itu kepada hamba tersebut. Maka Allah SWT disifati sebagai sang Pecinta kepada hamba dan begitu pula si hamba disifati sebagai pencinta kepada Allah SWT. Itu berarti bahwa cinta Allah kepada hambaNya itu adalah semata Kehendak-Nya agar ada pelimpahan

Kasih Sayang kepada sang hamba sebagaimana dengan rahmat-Nya ketika melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba. Jadi Mahabbah atau cintai memiliki nuansa khusus dibanding Rahmat. Sementara Rahmat tersebut lebih sebagai merupakan pelimpahan-pelimpah an nikmat secara umum. Secara khusus Allah melimpahkan nikmat kepada hamba-Nya dalam gairah ruhani sang hamba, yang kemudian disebut cinta atau mahabbah.

Pengalaman Sufi

Para sufi seringkali menyebutkan mahabbah atau cinta. Hampir seluruh puja dan puji para Sufi mendendangkan keharuan cinta dan kedahsyatan rindunya. Pecinta agung sepanjang zaman Rabi’ah Adawiyah misalnya, telah mampu mencapai tingkat cinta tertinggi dan dengan cinta itu pula Rabi’ah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT. Seluruh istana sufi, hampir-hampir dipenuhi ornamen-oprnamen kecintaan kepada Sang Kekasih hingga pada tahap tertentu sang hamba seakan-akan menyatu dengan Kekasih-Nya. Sejumlah pengalaman cinta para sufi begitu kuat terdefinisi dalam simpul-simpul berikut:

  • Cinta berarti kecenderungan pesona sang kekasih dengan penuh kebimbangan hati.
  • Cinta adalah mengutamakan kekasihnya di atas segala yang dikasihi.
  • Cinta adalah keselarasan jiwa dengan Sang Kekasih di dalam dunia nyata maupun dunia tidak nyata.
  • Cinta adalah peleburan si pencita dengan sifat-sifat Nya dan Peneguhan Cinta-Nya dengan Dzat-Nya.
  • Cinta merupakan selaras hati dengan Kehendak-Nya.
  • Cinta berarti rasa takut bila berlaku tidak sopan pada saat menegakkan pengabdiannya.

Al Bustamy mengatakan, cinta adalah membebaskan segala hal-hal sebesar apapun yang datang dari egomu, dan membesarkan hal-hal yang kecil yang datang dari kekasihmu.

Junaid al-Bagdady menegaskan, cinta berarti merasuknya sifat-sifat Sang Kekasih, meraih sifat-sifat sang pecinta. Si pencita sudah lebur dalam kenangan dan ingatan sang kekasih.

Abu Abdullah al-Qurasy mengatakan, cinta berarti menyerahkan dirimu kepada Sang Kekasih tanpa sedikitpun tersisa.

Sedangkan Asy Syibly menyatakan, cinta yang kemudian disebut mahabbah hanya karena mahabbah sudah melenyapkan seluruh sisi hati, kecuali hanya Sang Kekasih.

Dalam suatu forum diantara para syeikh sufi di Mekkah, al-Junaid adalah peserta termuda. Lalu ia dipanggil, “Hai orang Irak, apa pendapatmu tentang cinta?” Tiba-tiba al Junaid menundukkan kepala. Air matanya meleleh dan sesenggukan, lalu bicara. “Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan melekatkan dalam pelukan Dizkir kepada-Nya. Mengukuhkan diri dalam melaksanakan perintah-Nya dengan kesadaran penuh bahwa Dia dalam hatinya. Cahaya Dzat-Nya telah membakar hatinya lalu ikut meminum dalam pesta minuman suci dari cangkir cinta-Nya. Lalu Yang Maha Kuasa tersingkap dari balik tiraiNya sampai ia hanya bicara dengan kata-kata yang selaras denga perintah-Nya, apa yang diucapkannya berasal dari-Nya. Ketika ia bergerak, ia bergerak karena perintah-Nya, ketika ia diam karena diamnya bersama Allah.” Mendengar penuturan al-Junaid semua syeikh menangis, lalu berkata, “Tak ada yang perlu diucapkan lagi. Semoga Allah menguatkan dirimu, wahai mahkota para sufi.”

Dalam riwayat, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Daud as,

Aku telah melarang cinta untuk-Ku yang merasuk di hati manusia, manakala cinta kepada selain diri-Ku masih punya tempat di hatinya.”

Dikisahkan tentang munajat Rabi’ah Adawiyah, “Tuhanku, akankah Engkau membakar dengan api, hati yang mencintaiMu? ” Tiba-tiba muncul bisikan lembut, “Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Jangan dirimu menyangka buruk seperti itu kepadaKu…”

Cinta Kepada Rasulullah SAW

Pengalaman-pengalaman sufi tentang cinta, sebenarnya tidak bisa lepas dari rasa cintanya kepada Rasulullah SAW. Al Bushiry Asy Syadizily, penulis sajak-sajak Al Burdah yang monumental itu, sungguh sangat anggun ketika melantunkan gairah cintanya kepada Rasulullah SAW. Sebab selain seorang Rasul SAW utama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah kekasih utama-Nya pula. Bentuk cinta seorang hamba kepada Rasulullah SAW-Nya adalah melalui peneladanan sunnah-sunnahnya, mendoakan melalui Shalawat Nabi kepadanya. Bahkan menghayati seluruh jalan hidupnya. Rasulullah SAW adalah teladan mulia, bagaimana para hamba mencintainya, sampai pada dataran dimana cinta benar-benar agung dalam jiwa para hamba, sebagaimana cinta yang dilukiskan para sufi itu. Mencintai Rasulullah SAW berarti mencintai Allah, dan sebaliknya mencintai Allah juga berarti mencintai Rasulullah SAW.

Apa yang disebut dengan Cahaya Muhammad adalah bentuk Kemaharinduan dan Kemahacintaan Ilahi, dimana Cahaya Muhammad adalah titik Pertama yang kelak melimpah menjadi Jagad Raya dan seluruh mahluk ciptaan-Nya. Karena itu dalam tradisi tarekat, shalawat kepada Nabi senantiasa mengiringi dzikir para sufi karena Cahaya Muhammad itulah awal dimana Allah menciptakan dan kemudian ciptaan-Nya itu mengenal-Nya dengan gairah cinta-Nya.

Dalam hadits Qudsi disebutkan, “Aku adalah khazanah tersembunyi, lalu aku ingin sekali (dengan segala Cinta-Ku) untuk dikenal, maka Kuciptakanlah mahluk agar ma’rifat kepadaKu.” Cinta kepada Rasulullah SAW berati juga suatu kesadaran agung dimana seorang hamba mengenal dirinya sebagai hamba, dengan segala hak-hak (kewajiban kehambaan, ubudiyah) dan mengenal dirinya sebagai hamba yang memiliki hak terhadap sesama hamba. Cinta tidak mengenal batas agama, batas golongan, batas geografi, batas suku dan batas-batas sosial lainnya. Cinta kepada Rasulullah SAW adalah awal kecintaan hamba terhadap sesama hamba mahluk Allah SWT. Kecintaan yang tak bisa digambarkan dengan jual beli duniawi atau penghargaan materi. Tetapi cinta yang membumbung dalam rahasia terdalam dari lubuk hamba kepada kekasih-Nya, Muhammad SAW. Mari kita renungkan, suatu wacana cinta di bawah ini: “Dosa orang-orang yang ma’rifat adalah menggunakan ucapan, penglihatan mereka untuk kepentingan duniawi dan meraih keuntungan darinya. Sedangkan pengkhianatan pecinta adalah mengutamakan hawa nafsu mereka dibandingkan mengutamakan Ridha Allah SWT dalam urusan yang mereka hadapi. Sedang dusta para pemula di jalan sufi adalah jika mereka lebih peduli terhadap kesadaran akan hal-hal manusiawi, dibanding kesadaran akan dzikir dan memandang Allah SWT,” demikian kata sufi besar, Abu Utsman.

Di Balik istighfar dan Shalawat Nabi SAW

Apa hubungan lstighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik sufi senantiasa ada dzikir istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid-wiridnya? Hubungan istighfar dengan shalawat, ibarat dua keping mata uang. Sebab orang yang bershalawat mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan kefanaan hamba ketika beristighfar. Shalawat Nabi merupakan syariat sekaligus mengandung hakikat. Disebut syariat karena Allah SWT memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman agar memohonkan Shalawat dan Salam kepada nabi.

Dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya senantiasa bershalawat kepada nabi. Wahai, orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam baginya,” (QS. 33 : 56)

Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut:

  1. Suatu hari Rasulullah SAW datang dengan wajah tampak berseri-seri dan bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu shalawat dari seorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya. Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.” (HR. An-Nasal)
  2. Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku maka malaikat juga akan mendoakan keselamatan yang sama baginya. Untuk itu hendaknya dilakukan meskipun sedikit atau banyak.” (HR. lbnu Majah dan Thabrani).
  3. Sabda Nabi SAW: “Manusia yang paling utama bagiku adalah yang paling banyak shalawatnya. “ (HR. Abu Dhawud).
  4. Sabdanya: “Paling bakhilnya manusia ketika ia mendengar namaku disebut dia tidak mengucapkan shalawat bagiku,” (HR. At-Tharmidzi) . “Perbanyaklah shalawat bagiku di hari Jum’at.” (HR. An-Nasal)
  5. Sabdanya: “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. An-Nasa’i)
  6. Sabdanya: “Tak seorangpun yang bershalawat kepadaku melainkan Allah mengembali-kan ke ruhku sehingga aku menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu Dhawud)

Tentu, tidak sederhana menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir ruhani yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu tentu karena posisi Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah, Nabiyullah,

Rasulullah SAW, Kekasih Allah dan Cahaya Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad sehingga setiap detak huruf dalam shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar biasa. Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada nabi, sedangkan nabi adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang?

Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung perintah Allah SWT.

  1. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin mahluk ini merupakan refleksi dari cahayanya yang agung. Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau adalah bentuk lain dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.
  2. Nabi Muhammad SAW adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk mencintainya berarti kembali kepada orang yang mendoakan tanpa reserve. Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut, pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmad dan AnugerahNya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW.
  3. Shalawat Nabi mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi kepada Kekasih-Nya itu meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaaan Allah tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi karena kandungan kebajikannya yang begitu par-exellent.
  4. Shalawat Nabi menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran bibir dan detak jantung akan senantiasa membumbung ke alam Samawat (alam ruhani) ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu mereka yang hendak menuju kepada Allah (wushul), peran Shalawat sebagai pendampingnya. Karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak bertemu dengan Yang Maha Paripurna.
  5. Nabi Muhammad SAW sebagai nama dan predikat bukan sekadar lambang dari sifat-sifat terpuji tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal yang ada dalam Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang agung itu hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi justru tercermin dalam Keagungan-Nya dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan hamba-hamba- Nya buat Kekasih-Nya.
  6. Allah pun bershalawat kepada Nabi, begitu juga para malaikat-Nya. Duhai kaum beriman bershalawat dan bersalamlah kepada Nabi SAW.

Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu lebih banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model shalawat yang diwiridkan para pengikut tarekat juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para malaikat-Nya.

Wa Allohu A’lam

sumber : http://masharryy.wordpress.com

Sabtu, 18 April 2009

SABAR TERHADAP TAKDIR

Posted by: Sirna Warna on: September 6, 2008

Jika seseorang telah meyakini bahwa musibah itu terjadi dengan izin Alloh dan dibalik takdir tersebut tersimpan hikmah yang agung, maka dia akan ridho dengan keputusan Alloh dan berserah diri kepada-Nya. Ia juga akan bersabar atas musibah tersebut dalam rangka mengharap pahala dari Alloh. Akhlaknya semakin baik dan hatinya semakin tenang serta iman dan tauhidnya semakin kuat.

Imam ahmad mengatakan, “Sabar disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak lebih dari 70 ayat. Kaitan sabar dan iman seperti halnya kedudukan kepala dan jasad… Seorang yang tidak sabar dalam melaksanakan ketaatan, dalam menjauhi kemaksiatan serta ketika tertimpa musibah maka ia sudah kehilangan sebagian besar dari imannya.” (At Tamhid: 391)

Alloh Tidak Pernah Salah Dalam Menempatkan Musibah

Para pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bersama bahwa Alloh tidak akan pernah salah di dalam menempatkan musibah, kepada siapa, kapan dan dampak yang ditimbulkannya. Alloh berfirman, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (At Taghobun: 11) Setiap musibah yang menimpa seseorang baik berkaitan dengan jiwa, harta atau yang lain pasti berasal dari takdir Alloh yang tidak akan bisa terelakkan. Barang siapa membenarkan dan yakin bahwa seluruh musibah itu datangnya dari Alloh maka Alloh akan memberikan taufik kepadanya untuk rela dengan musibah tersebut dan merasa tenang atas musibah tersebut karena meyakini adanya hikmah Alloh yang agung di balik itu semua. Hal ini karena ia meyakini bahwa Allohlah yang paling tahu yang terbaik bagi hambaNya. Oleh karena itu, saudara-saudara yang budiman, ungkapan ‘takdir memang kejam’ adalah ungkapan yang sangat kejam. Ungkapan semacam ini tidaklah keluar kecuali dari orang-orang yang lemah iman. Semoga Alloh memperbaiki keadaan kaum muslimin.

Iman dan Kekufuran Punya Cabang

Saudara-saudara yang budiman, sesungguhnya sabar adalah cabang keimanan karena tidak sabar di dalam menerima taqdir Alloh merupakan salah satu cabang kekufuran. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam besabda, “Ada dua perkara yang masih dilakukan orang, padahal keduanya adalah bentuk kekufuran, yaitu mencela keturunan dan meratapi orang yang telah meninggal.” (Muslim). Lawan dari cabang kekufuran adalah cabang keimanan. Karena meratapi mayit adalah cabang kekufuran maka lawannya yaitu sabar menghadapi musibah adalah cabang keimanan

Saudara-saudara sekalian, sabar ialah menahan hati dari marah, menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan haram. Meratapi mayit adalah bentuk ketidaksabaran karena tidak menahan lisan dari ratapan. Dua hal yang disebutkan dalam hadits adalah adat jahiliyah, tetapi rosul telah mengabarkan bahwa kebiasaaan tersebut akan menurun pada umatnya.

Menahan Anggota Badan Dari Menampakkan Kemarahan

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.” (Muttafaq alaihi)

Para pembaca yang budiman, marilah kita mencoba untuk memperhatikan hadits di atas bagaimana Islam mengajarkan akhlak yang baik tatkala mendapat musibah. Seorang muslim dilarang untuk mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap takdir buruk yang menimpanya, terlebih lagi seperti adat jahiliyah. Perbuatan seperti ini bukanlah dari Islam sama sekali.

Musibah Adalah Bukti Kecintaan Alloh

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hambanya, maka disegerakan hukuman baginya di dunia. Sebaliknya apabila Alloh menghendaki keburukan pada seseorang maka ditangguhkan dosanya sampai dipenuhi balasannya di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

Alloh menimpakan musibah kepada hamba-Nya yang mukmin untuk membersihkan dosa dan kesalahannya, sehingga di hari akhir kelak beban keburukannya berkurang. Adapun orang yang tidak Alloh timpakan musibah padanya tatkala di dunia tidaklah bisa diambil kesimpulan bahwa Alloh cinta atau memuliakannya tapi mungkin saja hal ini merupakan istidroj ketika ia hidup sehingga ketika di hari akhir menjadikan dosa dan timbangan amal buruknya makin besar. Alloh memberikan nikmat kepada siapapun dan menghalanginya dari siapapun. Alloh tidak ditanya tentang yang Dia perbuat tapi manusia lah yang akan ditanya tentang yang diperbuatnya. Bencana kepada mukmin adalah tanda kebaikan sepanjang bukan musibah agama meninggalkan kewajiban dan melaksanakan keharaman.

Ridho Diganjar Dengan Ridho, Marah Diganjar Dengan Marah

Reaksi seseorang ketika tertimpa musibah itulah yang akan menentuan penilaian Alloh terhadapnya. Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya besar pahala berbanding lurus dengan besar cobaan. Apabila Alloh mencintai suatu kaum, maka Alloh uji mereka. Barang siapa yang ridho maka baginya keridhoan Alloh dan barang siapa yang marah maka baginya kemarahan Alloh.” (HR. Tirmidzi)

Tidak Ada Yang Bisa Menghalangi Takdir Alloh

Para pembaca yang budiman, sesunguhnya tidak ada gunanya berteriak-teriak karena itu tidak akan menghilangkan musibah. Mencela Alloh juga tidak akan membuat Alloh mengurungkan keputusanNya, bahkan akan mendatangkan murkaNya.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah seandainya seluruh orang bersepakat untuk memberikan kebaikan kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberikannya kecuali dengan yang memang sudah ditakdirkan Alloh untukmu. Sebaliknya seandainya mereka bersepakat untuk menimpakan bahaya kepadamu maka mereka tidak akan dapat mencelakaaknmu keculi dengan yang memang telah Alloh takdirkan atasmu.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan shohih)

Saudara-saudara yang budiman, karena kebaikan yang didapatkan itu dari Alloh, maka hendaknya kita semua menggantungkan seluruh harapan kepada Alloh dan tidak berpaling kepada makhluk. Wallohu a’lam.

Tags:

KENAPA HARUS KE PANGERSA ABAH(KH.Drs. Jujun Junaedi)

Posted by: Sirna Warna on: August 22, 2008

Kita semua termasuk yang dari Malaysia dan Singapura datang ke Pondok Pesantren Suryalaya atas kehendak Allah dan tidak diundang Pangersa Abah. Kita hadir ke sini dikarenakan sangat membutuhkan barokahnya. Oleh karena itu walaupun dari Malaysia dan Singapura terasa dekat karena kebutuhan di atas. Sebaliknya banyak juga orang dekat terasa jauh akibat tidak ada kebutuhan terhadap barokah tadi.
Hal demikian sudah ada sejak jaman Nabinya, dimana ajaran Islam menyebar ke berbagai pelosok tetapi pamannya sendiri tidak mau mengikutinya, bahkan sampai waktu kematiannya, Nabi Muhammad SAW tidak berhak untuk memberinya hidayah. Sebagaimana ditegaskan Allah : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashash :56).

Kita beruntung hadir kesini atas kehendak Allah SWT. Mengapa datang ke sini ? dan mengapa harus ke Pangersa Abah ? Padahal banyak Kyai atau pesantren yang lebih bagus seperti di Bandung dan di tempat lain. Itulah keunikannya, banyak orang sekarang yang merasa “sok tahu”, padahal kita sangat membutuhkan petunjuk dan orang yang menunjukkannya. Tentunya orang yang menunjukkan adalah orang yang sudah tahu, bahkan mungkin orang sana yang datang ke sini yang disebut Mursyid.

Ibarat ada 2 orang yang satu ingin pergi dari Tasik ke Cianjur dan yang satu lagi ingin pergi sari Tasik ke Bandung. Lalu berangkatlah orang yang ingin ke Cianjur itu bersama seorang penunjuk jalan yang sudah tahu Cianjur bahkan berasal dari Cianjur. Sedangkan orang yang ingin pergi ke Bandung pergi sendirian tanpa petunjuk jalan, padahal baru pertama akan pergi ke Bandung serta tidak tahu sama sekali tentang Bandung. Dari kedua orang diatas mana yang paling cepat sampai tujuan ? tentu orang yang pergi ke Cianjur, sehingga tidak perlu banyak bertanya dijalannya dan tidak mungkin kesasar. Sebaliknya orang yang pergi ke Bandung yang pergi sendirian dan tidak tahu jalan malah kesasar.
Ternyata orang yang ke Bandung itu ingin pergi ke Alun-alun Bandung. Tetapi kesasar malah pergi ke Gasibu. Begitu sampai di lapangan Gasibu dia berkata : “Ini dia sudah sampai di alun-alun Bandung”, padahal bukan. Lalu ada orang yang mengingatkan bahwa alun-alun Bandung itu bukan disini, terus ditunjukkan jalan ke alun-alun Bandung depan Masjid, malah berkata : “Bohong ini ! masa alun-alun tidak ada lapangannya dan malah dipenuhi toko-toko ? Demikianlah gambaran orang hidup di dunia tanpa Guru Mursyid.

Banyak orang bertanya mengapa ke Pondok Pesantren Suryalaya? Padahal banyak pesantren yang lebih besar dan lebih terkenal. Sebenarnya kita pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya ini tujuannya adalah ingin diakui murid oleh Pangersa Abah, dimana Beliau sendiri sebagai Mursyidnya. Dan kita kesini (Pondok Pesantren Suryalaya) ingin belajar Tarekat yang selama ini oleh para penjajah dibiaskan serta dipisah-pisahkan dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Islam asalnya bulat, tetapi begitu datang ke Indonesia tidak bulat lagi akibat para penjajah. Islam yang benar adalah terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan. Iman dipelajari dalam Ilmu Tauhid (Aqoid), Islam dipelajari dalam Ilmu Fiqh, dan Ihsan dipelajari dalam Ilmu Tasawuf.

Maka apabila kita mempelajari Tauhid, pasti akan menemukan Firqoh, dan apabila mempelajari Fiqh akan menemukan madzhab. Begitu juga apabila mempelajari Tasawuf, pasti akan menemukan Thariqot (tarekat). Sebenarnya kita itu baru bicara : “Biar terpetik hasilnya dan diambil buahnya”. Seharusnya diteruskan dimakan itu buahnya biar terasa nikmatnya.
Maka di Pondok Pesantren Suryalaya bukan sekedar untuk mengisi kepada, tetapi yang lebih penting mengisi hati. Seperti dalam sholat : bacaannya Fasih, apakah sudah merasakan nikmatnya Shalat ? sudahkan kita merasakan nikmat dikala berkumandang Adzan ? lalu diaplikasikan dalam tindakan dengan langsung ke masjid. Bahkan di Pondok Pesantren Suryalaya diajarkan dan dicontohkan oleh Guru Mursyid sebelum berkumandang adzan sudah siap dan duduk ditempat sujud. Inilah bedanya, dimana sebelum ke Pondok Pesantren Suryalaya setelah adzan itu lalu mengumandangkan sholawat sambil menunggu Sang Imam (Kyai) datang ke mesjid atau menunggu orang yang sedang shalat sunat. Sehingga melaksanakan sholat wajibnya diakhir waktu.

Seorang Guru Mursyid telah mengajarkan agar kita siap menghadap Allah sebelum waktunya datang. Hal ini sebagai tanda bahwa kita telah siap tatap muka dan ridho serta tunduk terhadap aturan Allah, yang dibuktikan dengan perbuatan. Karena Allah sendiri telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) itu dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali”. (An-Nisa : 142).

Apakah kita termasuk diantara mereka (munafik) ? ketika mendengar adzan, malah berkata :”Ah gila ! sedang asyiknya Adzan”. Mengapa mereka berbuat seperti itu ? kata Allah karena mereka hanya berdzikir kepada Allah sedikit sekali. Mengapa mereka berdzikir sedikit kepada Allah? Karena mereka hanya mengandalkan dzikir dengan lisannya saja. Dzikirnya hanya didalam mesjid, begitu keluar dari mesjid otomatis berhenti dzikirnya. Padahal Allah SWT telah menyuruh kita untuk terue menerus dzikir kepada-Nya dalam keadaan apapun. Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 191 : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaanlangit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau meciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami darisiksa neraka”.

Dalam ayat diatas Allah menyebut dengan gelar Ulil Albab, yaitu para ilmuwan yang selalu berdzikir kepada Allah. Kerena berpikir tanpa diikuti berdzikir akan “ngaco”, sehingga banyak dari para ilmuwan itu tidak memberikan manfaat banyak dalam kehidupan. Itulah sebabnya, motto IAILM adalah “Ilmu Amaliyah-Amal Ilmiah”. Ilmu tanpa amal tidak memberikan manfaat.
Lebih penting lagi bahwa tidak ada jaminan bagi orang pintar masuk surga. Berbeda kepada orang yang selalu berdzikir kepada Allah sudah dijamin masuk surga. Maka orang bodoh mau beramal lebih baik daripada orang pintar tidak mau beramal. Akan tetapi kalau merasa bodoh jangan diam saja, harusnya mau bertanya dan belajar. Adapun bisa tidaknya itu urusan Allah.

Bagaimana agar bisa berdzikir yang tidak pernah berhenti? Ilmulah sebenarnya jawaban mengapa kita harus pergi ke Pangersa Abah, di Pondok Pesantren Suryalaya bisa menemukan dzikir yang bisa dibawa kemana-mana : dibawa ke WC? Kalau tidak pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya kita tidak tahu. Padahal seandainya ketika di dalam WC itu datang kematian, tentu akan merugi kalau tidak sedang berdzikir kepada Allah. Maka Allah menegaskan : “Sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal (kematian)”. (Al Hijr : 99).
Tujuan hidup kita tidak lain : “Ya Tuhanku Hanya Engkaulah yang kumaksud, dan keridhoan-Mulah yang kucari. Berilah aku kemampuan untuk mencintai dan ma’rifat kepada-Mu”.

Jangan sekali-kali kita berjalan dari makhluk ke makhluk, tetapi berjalanlah dari makhluk kepada yang menciptakan makhluk. Lebih tegas lagi dalam surat Al-Kahfi : 17 disebutkan : “Dan yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tak akan mendapatkan Wali Mursyid yang memberi petunjuk”.

Kita tinggal mengamalkannya, karena wali Mursyid telah menunjukkan jalan dan telah memberi alatnya. Barang siapa lagi yang akan dijadikan figur selain Beliau ?

Cara Mengagungkan Guru yang Betul

Posted by: Sirna Warna on: August 22, 2008

Kita datang ke Pondok Pesantren Suryalaya tidak diundang dan tidak ada promosi untuk datang ke sini, justru kita datang ke Pondok Pesantren Suryalaya karena merasa perlu untuk mengobati penyakit hati. Kalau kita lapar tentu harus makan, kalau sakit pasti pergi ke dokter untuk berobat, apalagi kalau hatinya sakit harus diobati. Orang bisa kenyang perutnya, tetapi ruhnya tetap lapar. Apa buktinya ? Dia mampu memikul sampai 50 Kg. tetapi diperintahkan shalat tidak kuat. Oleh karena itu ruh kita pun harus diberi makan agar tidak lapar. Apa makanannya ? Dzikir lisan adalah makanan ruh, kalau makan harus membuka mulut, maka ruh pun kalau ingin diberi makan harus dibuka yaitu dengan Talqin Dzikir. Talqin itu pembuka agar masuk kedalam ruh. Kita jangan mengotori dan mengkebiri kebesaran Pondok Pesantren Suryalaya.

Justru mengapa Pondok Pesantren Suryalaya dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat dikarenakan Komplit. Seperti Pangersa Abah dulu beliau pernah menuntut ilmu di Pesantren Gentur. Tidak mungkinorang yang tidak berilmu mampu mengarang sebuah kitab Miftahus Shudur, apa itu bukan ilmu ladunni ? Yang dimaksud Ilmu Ladunni itu adalah bagi orang yang pernah belajar puluhan tahun secara lengkap lalu dia ikhlas mengamalkan semata-mata ingin meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah. Setelah itu Allah memberi imbalan sebagai ilmu tambahan disebabkan keikhlasannya. Ini bukan berarti tidak pernah belajar, sehingga ketika ingin ceramah tidak pernah membuat persiapan, biar menunggu “ilham” dari Abah.

Oleh karena itu Ilmu Fiqh, Ilmu Tauhid dan Ilmu Tasawuf dipelajari di Pondok Pesantren Suryalaya jangan sampai ada Ikhwan yang ketiduran ketika akan melaksanakan sholat tidak berwudhu lagi, karena secara biologis kalau orang tidur itu, bagian belakangnya terbuka, sehingga membatalkan wudhunya. Begitu juga Sifat 20 yang menjadi inti Sifat-sifat Allah perlu dipelajari, karena tidak akan ada tharekat kalau tidak ada Tauhid. Tharekat itu gabungan dari Tauhid, Fiqh, dan Tasawuf. Ibarat sambal terdiri dari garam. Terasi, cabe dan gula. Tidak dikatakan sambal jika tidak diaduk dan dicampur.

Begitu juga dalam pentalqinan dan manakiban perlu dipisahkan memakai pembatas antara lelaki dan perempuan agar tidak menjadi fitnah. Ini sesuai dengan wasiat Syeikh Abdul Qodir Jailani agar menjaga batas-batas syara. Kita jangan memberatkan kepada guru. Misalnya bahwa Tuan Syeikh akan berjaga-jaga dipintu neraka Jahannam, sehingga kalau ada muridnya dimasukan ke Neraka Beliau mengambilnya. Beliau berjaga itu hanya bagi muridnya saja. Siapa muridnya ? adalah mereka yang melaksanakan TANBIH (ulah aya carekeun Agama jeung Nagara / Jangan sampai melanggar perintah Agama dan Negara).

Termasuk Mesjid Nurul Asror ini sudah dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan aturan fiqh (agar sah dipakai berjamaah oleh seluruh orang yang shalat), karena Pangersa Abahpun adalah seorang faqih (Ahli fiqh). Kalau Tuan Syeikh Abdul Qodir seorang pengamal Tasawuf Junaed al-Bagdadi yang mencapai derajat tinggi, maka dalam fiqhnya Beliau mengikuti Imam Hambali. Jadi jangan sampai mengagungkan diluar batas, karena Nabi sekalipun ada batasnya yaitu jangan dijadikan Tuhan. Begitu juga Pangersa Abah mengamalkan Ilmu Fiqh Imam Syafi’i dalam Tharekatnya adalah Tharekat Tuan Syeikh Abdul Qodir Jaelani dan Naqsyabandi dan Tasawufnya adalah mengikuti Junaedi al-Baghdadi. Bagaimana Tauhidnya ? Pondok Pesantren Suryalaya mengikuti Imam Asy’ari dan Imam Ma’turidi. Maka Pondok Pesantren Suryalaya disebut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Sehingga di Pondok Pesantren Suryalaya dipelajari kitab Tijan, Fathul Majid, Kifayatul Awam, Ummul Barohim, Usulul Hamidiyah, Tanwirul Qulub. Dalam fiqh minimal Safinah dan Taqrib. Jadi silahkan agungkan Pangersa Abah seagung-agungnya, akan tetapi perlu diperhatikan batas-batas tertentu yang justru nantinya mengecilkan Pangersa. Seperti cara salam kepada Beliau Pangersa Aang KH. Abdul Gaos SM. : Assalamu’alaika Yaa Malika Zaman, wa Ya Imamal Makan, wa Ya Warisal kitab,wa Yaa Naiba Rosulillah, wa yaa man minassamai wal ardhi a’idatuhi, ya man ahlu waqtihi kulluhum ‘ailatuhu,, wa ya man yanzilul ghoisa bida’watihi, wa yadhirruddor’u bibarokatihi warohmatullohi wabarokatuhu. Karena beliau pantas dan layak menyandang sebutan demikian

Tags:

Nasional

Pramono: Kunjungan Mega ke Abah Anom Murni Silaturrahmi
Minggu, 05 September 2004 | 14:03 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kunjungan Presiden Megawati ke Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, pimpinan Abah Anom, murni silaturrahmi. Hal ini dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Pramono Anung, kepada Tempo News Room, ketika mendampingi Mega dalam kunjungan itu, Minggu (5/9).

"Yang jelas kunjungan itu adalah kunjungan silaturrahmi. Mereka saling mendoakan. Dan Ibu Mega menyatakan concern-nya terhadap Abah Anom berkaitan dengan jasa Abah Anom dalam membantu mengatasi masalah narkotika," katanya. Oleh karena itu, menurut Pramono, dalam sambutannya, Megawati hanya menyinggung masalah penanganan narkotika saja.

Ketika ditanyakan apakah kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kampanye, Pramono menepisnya. "Murni silaturrahmi, terserah jika mau beranggapan kunjungan ini bagian dari kampanye," katanya.

Dalam kunjungan ini, Megawati juga didampingi Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung dan beberapa pengurus Partai Golkar.

Ami Afriatni - Tempo News Room